This afternoon, after church hour, I had lunch with 2 of my best friends. Suddenly, our conversation circulates around crisis. This not the kind of world crisis such as poverty, swine flu or the global financial crisis. It’s about life crisis... quarter life crisis. Sounds familiar? Or you’re one of those who are dealing with it now?
Three of us, me and my 2 friends are almost 25. And all of us are kinda questioning about all the uncertainty that surrounding our life.
First situation
My friend number 1. She is a girl with big talent and passion in graphic design, product design and fashion design. But she is confused. Her fiance currently is living in the US. They have plans for married and starting a life as a newlyweds...abroad. But seems like the global financial crisis has taken it’s effect and it caused her fiance not easily to find a job. My friend has a lot of talent inside of her but still considering what kind of job that suits her.
Second situation
My friend number 2. She is a vibrant and vivacious girl. Actually she is the youngest around the three of us. Just broke up from the-not-really-supportive relationship....if I could say so. Still wondering what’s next for her life. Still thinking about all the upcoming events. Talented, attractive and looking around for opportunity to breakthrough.
Third situation
It’s me. Yeah it’s me, myself and I. Mmmm where should I start?......I just got into a panel interview 2 days backward. Well, I kinda suspicious about what’s gonna happened next after the result informed. But I do wish that I could receive some kind of good news from the panel result.
I found a key word. The key word is ‘search’. Yes ‘search’. We all are still searching for what suits us and searching for certainty. Life is a rollercoaster lately. When you’re on the peak, you prepare yourself to slide down and scream. When you’re on the bottom, you’re crawling up until you reach the peakest point.
Lucky me, although I’m still searching for what I am unless I’m surrounded by people that truly care about me. When you get lost in a place that you’ve never been before it will creeps you out even more when you don’t have someone that you could trust beside you. But when someone that you could trust is right beside you and together you’re trying to find a way out...I guess what we should worried about? Nothing I guess.
Together we could find a way out. Together we could patch things up. Together we could crawl up to the top.
Lord know dreams are hard to follow but don’t let anyone take them away. Hold on there will be tomorrow. In time, you’ll find a way.....(Hero by Mariah Carey)
Sunday, May 3, 2009
Lesson learned
Perduli kepada orang lain sepertinya mengandung resiko. Yah kita sebagai manusia memang tidak bisa mengelak bahwa banyak resiko yang harus kita hadapi dalam segala apapun yang kita lakukan.
Makan mengandung resiko gemuk, kolesterol, dan tersedak.
Tidur mengandung resiko mimpi buruk.
Ganteng beresiko dikejar-kejar oleh banyak peminat hahaha peace yo
Kaya beresiko dirampok
Pacaran beresiko bertengkar atau putus
Melajang beresiko dicap tidak laku dan tidak menarik
Well, the list will getting longer. You can name it yourself what other risks that may follow your strengths and weaknesses.
Apa benar bahwa manusia memang diciptakan buat jadi makhluk yang sangat ahli untuk bertahan hidup? Kalau bicara mengenai bertahan hidup berarti membahas mengenai perjuangan manusia sebagai individu. Pada dasarnya manusia diciptakan untuk bersosialisasi dan berpasangan.
Segalanya akan sangat indah jikalau manusia tidak pernah menghadapi yang namanya konflik dan persaingan dalam lingkungan sosialnya. Lingkungan sosial itu sendiri memiliki banyak level. Ada sosialisasi untuk tujuan profesional ada sosialisasi untuk kesenangan semata. But, pada intinya manusia bersosialisasi untuk memenuhi kebutuhannya untuk memperhatikan dan diperhatikan.
Feels really good when you have someone who cares and you care about. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa konflik bisa hadir ditengah-tengah dalam sebuah sosialisasi. And now conflict happened. Selanjutnya bukankah untuk kita bisa terus move on yang dibutuhkan adalah kemampuan bertahan hidup? Kita harus bisa bertahan dan melanjutkan hidup kita yang sudah tersakiti. Selain itu kita juga harus memiliki kapasitas untuk dapat berekonsiliasi dengan keadaan dan dengan individu bersangkutan yang berkonflik dengan kita. Karena kalau kita tidak mengijinkan diri kita sendiri untuk berdamai dengan sekitar lalu siapa yang akan dapat membuat keadaan menjadi lebih baik. Kita adalah manusia dengan inisiatif dan kehendak. Berarti tidak suka dipaksa dan dikendalikan di bawah tekanan. So, open up your heart and let your heart healed.
Yup I know it feels suck when we are in a conflict with someone. Especially when someone that hurts us is someone that we truly care about. Ignored or treated as if that we don’t exist by our dear one is suck.
Tetapi jikalau hal tersebut sudah terjadi yang dapat kita lakukan hanyalah bertahan dengan segala keadaan tersebut. Berusaha berpikir positif bahwa kita masih ada dan utuh tanpa kekurangan sesuatu apapun juga walaupun keberadaan kita tidak dianggap penting oleh orang yg kita anggap penting. Well, memang ada sebagian orang di dunia yang hanya ingat pada orang lain hanya pada saat mereka butuh. Di waktu kita tidak dibutuhkan, kehadiran kita tidak diperlukan. Semua perlakuan tersebut membuat kita merasa seolah-olah kita adalah one fucking loser. Actually, the real loser is not us...but them. Yeah fuck all those kind of people. What on earth they treated people as if people are some kind of disposable stuffs. We are human being. We have feeling. We have thoughts. And we don’t deserve to be treated that way.
Nothing could degrade our values of life. And nobody could upset us unless we allow them to do so.
Makan mengandung resiko gemuk, kolesterol, dan tersedak.
Tidur mengandung resiko mimpi buruk.
Ganteng beresiko dikejar-kejar oleh banyak peminat hahaha peace yo
Kaya beresiko dirampok
Pacaran beresiko bertengkar atau putus
Melajang beresiko dicap tidak laku dan tidak menarik
Well, the list will getting longer. You can name it yourself what other risks that may follow your strengths and weaknesses.
Apa benar bahwa manusia memang diciptakan buat jadi makhluk yang sangat ahli untuk bertahan hidup? Kalau bicara mengenai bertahan hidup berarti membahas mengenai perjuangan manusia sebagai individu. Pada dasarnya manusia diciptakan untuk bersosialisasi dan berpasangan.
Segalanya akan sangat indah jikalau manusia tidak pernah menghadapi yang namanya konflik dan persaingan dalam lingkungan sosialnya. Lingkungan sosial itu sendiri memiliki banyak level. Ada sosialisasi untuk tujuan profesional ada sosialisasi untuk kesenangan semata. But, pada intinya manusia bersosialisasi untuk memenuhi kebutuhannya untuk memperhatikan dan diperhatikan.
Feels really good when you have someone who cares and you care about. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa konflik bisa hadir ditengah-tengah dalam sebuah sosialisasi. And now conflict happened. Selanjutnya bukankah untuk kita bisa terus move on yang dibutuhkan adalah kemampuan bertahan hidup? Kita harus bisa bertahan dan melanjutkan hidup kita yang sudah tersakiti. Selain itu kita juga harus memiliki kapasitas untuk dapat berekonsiliasi dengan keadaan dan dengan individu bersangkutan yang berkonflik dengan kita. Karena kalau kita tidak mengijinkan diri kita sendiri untuk berdamai dengan sekitar lalu siapa yang akan dapat membuat keadaan menjadi lebih baik. Kita adalah manusia dengan inisiatif dan kehendak. Berarti tidak suka dipaksa dan dikendalikan di bawah tekanan. So, open up your heart and let your heart healed.
Yup I know it feels suck when we are in a conflict with someone. Especially when someone that hurts us is someone that we truly care about. Ignored or treated as if that we don’t exist by our dear one is suck.
Tetapi jikalau hal tersebut sudah terjadi yang dapat kita lakukan hanyalah bertahan dengan segala keadaan tersebut. Berusaha berpikir positif bahwa kita masih ada dan utuh tanpa kekurangan sesuatu apapun juga walaupun keberadaan kita tidak dianggap penting oleh orang yg kita anggap penting. Well, memang ada sebagian orang di dunia yang hanya ingat pada orang lain hanya pada saat mereka butuh. Di waktu kita tidak dibutuhkan, kehadiran kita tidak diperlukan. Semua perlakuan tersebut membuat kita merasa seolah-olah kita adalah one fucking loser. Actually, the real loser is not us...but them. Yeah fuck all those kind of people. What on earth they treated people as if people are some kind of disposable stuffs. We are human being. We have feeling. We have thoughts. And we don’t deserve to be treated that way.
Nothing could degrade our values of life. And nobody could upset us unless we allow them to do so.
Akhirnya.....
Minggu yang baru lewat ini banyak dilewati dengan banyak hal yg pada ujungnya membuat gue berkata ,”akhirnya....”
Kamis, 30 April 2009
Akhirnya gue berhasil dapet ijin dr kantor buat ambil ijasah gue yg uda lama bgt ga gue ambil. Kayaknya udah ga tau berapa kali gue minta ijin buat ambil tu ijasah Cuma ijin selalu gagal keluar. Intinya akhirnya gue berhasil dpt ijin ke kampus buat ambil ijasah tapi gue diharuskan segera kembali ke kantor begitu semua urusan yang menyangkut pengambilan ijasah tersebut uda kelar.
Akhirnya gue ke kampus lagi setelah hampir setengah tahun gue resmi ga lagi jadi warga Universitas Pelita Harapan. Dulu gue inget bgt betapa malesnya gue kuliah. Selalu aja ada alesan yg pengen gue buat begitu gue bangun tidur supaya gue ga usah kuliah di hari itu. Anyway...begitu gue nyampe ke kampus, gue parkir di tempat yg dulu jd tempat parkir langganan gue. Surprisingly, begitu gue turun dari mobil ada yang manggil.
“bos...bos...”
Spontan gue nengok....ternyata tukang parkir di parkiran kampus yg manggil. Gue sempet bingung kok dia bisa inget trus tiba2 manggil gue gitu.
Selanjutnya dia nanya, “ apa kabar nh? Lama ga keliatan...udah lulus yah?”
“iyah nh uda lulus hampir setengah taon lah...parkirannya udah diaspal nh skrg?”, jawab gue.
“iya ni parkiran diaspal gara2 ada buat acara racing bbrp bulan lalu. Sengaja diaspal biar bisa dibuka jadi track racing.”
“oooo gitu pantes berubah”
Akhirnya gue berjalan lagi di jalan yg sama yang selalu gue lalui selama kurang lebih 4 taon menuju gedung fakultas ekonomi. So far, yg ada di dalem kampus ga ada yg berubah. Tetep sama. Cuma aja skrg ada toko buku yg asli enak bgt di depan kampus. Tu toko buku uda sumpah nyaman bgt ditambah disediain byk bgt bangku dan sofa buat duduk sambil baca ato sekedar bengong aja nunggu jam kosong abis buat masuk ke kelas berikutnya. Damn! napa ga dari gue masi kuliah uda ada aj tu book store.
Proses pengambilan ijasah cepet bgt. Akhirnya gue bisa megang ijasah gue haha norak bgt kalo yg ini mah. Berhubung gue ngerasa rugi kalo langsung balik ke kantor...so, gue duduk aja dulu sambil santai di dalem toko buku yang yahud itu.
Jumat, 1 Mei 2009
Akhirnya nyampe juga gue di hari panel interview gue. Pas melek di hari jumat, hal pertama yg ada di kepala gue adalah gue pengen hari ini sgera berakhir. Secara uda weekend trus gue mesti masuk ke ruangan panel buat ditanya-tanya sama para panelis otomatis bikin gue jadi ngerasa punya beban di hari itu.
Akhirnya panel selesai. Thank God everything went pretty well I guess. Fiuh...... panelisnya sangat bersahabat, pertanyaannya juga ga yang killer banget, dan situasi panel juga ga terlalu tegang. Masi ada diselingi ama candaan dan ketawa-ketawa. Mmmm not as bad as I thought before. Thank God for everything and thank God it’s Friday.
Akhirnya....weekend lagi.....
Kamis, 30 April 2009
Akhirnya gue berhasil dapet ijin dr kantor buat ambil ijasah gue yg uda lama bgt ga gue ambil. Kayaknya udah ga tau berapa kali gue minta ijin buat ambil tu ijasah Cuma ijin selalu gagal keluar. Intinya akhirnya gue berhasil dpt ijin ke kampus buat ambil ijasah tapi gue diharuskan segera kembali ke kantor begitu semua urusan yang menyangkut pengambilan ijasah tersebut uda kelar.
Akhirnya gue ke kampus lagi setelah hampir setengah tahun gue resmi ga lagi jadi warga Universitas Pelita Harapan. Dulu gue inget bgt betapa malesnya gue kuliah. Selalu aja ada alesan yg pengen gue buat begitu gue bangun tidur supaya gue ga usah kuliah di hari itu. Anyway...begitu gue nyampe ke kampus, gue parkir di tempat yg dulu jd tempat parkir langganan gue. Surprisingly, begitu gue turun dari mobil ada yang manggil.
“bos...bos...”
Spontan gue nengok....ternyata tukang parkir di parkiran kampus yg manggil. Gue sempet bingung kok dia bisa inget trus tiba2 manggil gue gitu.
Selanjutnya dia nanya, “ apa kabar nh? Lama ga keliatan...udah lulus yah?”
“iyah nh uda lulus hampir setengah taon lah...parkirannya udah diaspal nh skrg?”, jawab gue.
“iya ni parkiran diaspal gara2 ada buat acara racing bbrp bulan lalu. Sengaja diaspal biar bisa dibuka jadi track racing.”
“oooo gitu pantes berubah”
Akhirnya gue berjalan lagi di jalan yg sama yang selalu gue lalui selama kurang lebih 4 taon menuju gedung fakultas ekonomi. So far, yg ada di dalem kampus ga ada yg berubah. Tetep sama. Cuma aja skrg ada toko buku yg asli enak bgt di depan kampus. Tu toko buku uda sumpah nyaman bgt ditambah disediain byk bgt bangku dan sofa buat duduk sambil baca ato sekedar bengong aja nunggu jam kosong abis buat masuk ke kelas berikutnya. Damn! napa ga dari gue masi kuliah uda ada aj tu book store.
Proses pengambilan ijasah cepet bgt. Akhirnya gue bisa megang ijasah gue haha norak bgt kalo yg ini mah. Berhubung gue ngerasa rugi kalo langsung balik ke kantor...so, gue duduk aja dulu sambil santai di dalem toko buku yang yahud itu.
Jumat, 1 Mei 2009
Akhirnya nyampe juga gue di hari panel interview gue. Pas melek di hari jumat, hal pertama yg ada di kepala gue adalah gue pengen hari ini sgera berakhir. Secara uda weekend trus gue mesti masuk ke ruangan panel buat ditanya-tanya sama para panelis otomatis bikin gue jadi ngerasa punya beban di hari itu.
Akhirnya panel selesai. Thank God everything went pretty well I guess. Fiuh...... panelisnya sangat bersahabat, pertanyaannya juga ga yang killer banget, dan situasi panel juga ga terlalu tegang. Masi ada diselingi ama candaan dan ketawa-ketawa. Mmmm not as bad as I thought before. Thank God for everything and thank God it’s Friday.
Akhirnya....weekend lagi.....
Saturday, April 25, 2009
Take it or Leave it
Dalam olahraga, ada yang namanya cooling down atau pendinginan. Tujuan dari pendinginan adalah untuk menjaga heart rate kita yang naik pesat saat kita berolah raga. Tidak aman kalau heart rate turun terlalu cepat dalam waktu yang mendadak...bisa berakibat serangan jantung. Sehingga butuh tahapan agar heart rate bisa turun perlahan-lahan.
Saat proses latihan fisik berlangsung, sebut saja misalnya lari atau bersepeda. Akan ada satu momen dimana energi kita uda pol bgt. Napas juga uda ampe megap-megap. Rasanya ud mesti stop atau sebentar lg kita bisa roboh. Kalau kita turutin kemauan kita buat stop justru saat itulah kita sedang membahayakan jantung kita. Detak jantung yang turun secara terjun bebas akan sangat membahayakan keselamatan kita. The worst scene scenario we could end up die. Sudden death.
Hal serupa juga bisa terjadi dalam kehidupan profesional kita. There would be a time where we have reached our fatigue point. We feel like giving up. Tapi saat kita berhenti akan ada banyak konsekuensi yang harus kita pikul. Yang paling jelas adalah kita bisa saja dapat cap buruk krn dianggap tidak profesional maupun dianggap tidak bertanguung jawab. Hal tersebut akibatnya adalah ke reputasi dan nama baik kita sendiri. Remember?! Good name worth more than gold...
The best thing to do is just move forward. Ga ada orang yg mo pulang dengan tangan kosong kalo baru separo jalan menuju tempat tujuan. Lagipula saat kita stop mendadak, biasanya rasa capenya ga langsung berasa.Tunggu bbrp menit kemudian baru berasa kalo napas dan badan kita ud ga lg seirama.
I guess segalanya akan jadi disfungsional saat tidak diselesaikan sebagaimana mestinya. Lalu pertanyaannya kapan kita boleh cooling down?
The answer is... as soon as possible after all the 'party' over
Saat proses latihan fisik berlangsung, sebut saja misalnya lari atau bersepeda. Akan ada satu momen dimana energi kita uda pol bgt. Napas juga uda ampe megap-megap. Rasanya ud mesti stop atau sebentar lg kita bisa roboh. Kalau kita turutin kemauan kita buat stop justru saat itulah kita sedang membahayakan jantung kita. Detak jantung yang turun secara terjun bebas akan sangat membahayakan keselamatan kita. The worst scene scenario we could end up die. Sudden death.
Hal serupa juga bisa terjadi dalam kehidupan profesional kita. There would be a time where we have reached our fatigue point. We feel like giving up. Tapi saat kita berhenti akan ada banyak konsekuensi yang harus kita pikul. Yang paling jelas adalah kita bisa saja dapat cap buruk krn dianggap tidak profesional maupun dianggap tidak bertanguung jawab. Hal tersebut akibatnya adalah ke reputasi dan nama baik kita sendiri. Remember?! Good name worth more than gold...
The best thing to do is just move forward. Ga ada orang yg mo pulang dengan tangan kosong kalo baru separo jalan menuju tempat tujuan. Lagipula saat kita stop mendadak, biasanya rasa capenya ga langsung berasa.Tunggu bbrp menit kemudian baru berasa kalo napas dan badan kita ud ga lg seirama.
I guess segalanya akan jadi disfungsional saat tidak diselesaikan sebagaimana mestinya. Lalu pertanyaannya kapan kita boleh cooling down?
The answer is... as soon as possible after all the 'party' over
Nothing Lasts Forever
Uda kurang lebih seminggu Om Frans meninggal. Om Frans tetangga gue yg selalu gue liat seger dan sehat mendadak meninggal gara2 serangan jantung waktu jatuh di kamar mandi.
Om Frans seinget gue uda tinggal di komplek perumahan ini sebelom gue dateng sekeluarga menjadi penghuni. Yah bisa dibilang gue gede dengan ngeliat dia bertambah tua. Gue liat waktu anak-anaknya masi SMA lalu kuliah dan sekarang semua anak-anak uda menikah dan punya anak.
Yang gue tahu dia selalu keliatan bahagia. Pagi-pagi dia uda bangun dan duduk di teras depan rumahnya sama Tante Lis,istrinya. Ritual duduk-duduk di teras akan terulang lagi di sore hari dan itu terjadi setiap hari. Sampe gue mikir ni org idupnya enak bener, relax bgt...dan paling keliatan...dia kompak abis ama Tante Lis. Semuanya mereka lakukan berdua dari duduk-duduk ngobrol di teras ampe bersih-bersih halaman rumah mereka.
Beberapa hari sebelom Om Frans pergi, Tante Lis uda bolak-balik berkali-kali buat check up ke dokter krn sakit. Yg gue denger kalo ga salah ada masalah di lambungnya. Tapi siapa yg sangka justru yg ga sakit dan adem-adem aja justru yg duluan pergi.
Emang ga selamanya org bakal hidup terus. Akan ada waktunya masing-masing yg bakal ditempuh oleh setiap orang. Waktu yg misterius dan waktu yg cm diketahui oleh Tuhan. Emang betul jam terbang kita uda ada yg nentuin. Dan kita ga bisa ngelak dari 'kontrak jam terbang' yang kita punya meskipun kita ga pernah menandatangani surat kontrak apapun dengan perihal jam terbang.
Demikian juga dengan keseharian kita...ga selamanya kegitan kita sehari-hari akan kita lakukan dalam bentuk dan situasi yang sama. Tante Lis masi bisa tetep duduk-duduk di teras setiap pagi dan sore hari. Ritual yang sama yang uda dia jalanin selama bertahun-tahun. Hanya saja kali ini dia harus duduk sendirian...
Well, kalo ngomong masalah ending...akhir dr sebuah proses. Pertanyaan yg selalu muncul di kepala gue adalah 'apakah gue bakal nyesel dg smua yg uda pernah gue jalanin dlm proses 'jam terbang' gue? kan harusnya waktu itu gue begini bukannya begitu.' atau hadir sebuah pernyataan 'wah gue puas bgt gue uda ngelarin kontrak...uda maksimal bgt dan uda ga ad yg kelewat lg buat disesali'
Om Frans seinget gue uda tinggal di komplek perumahan ini sebelom gue dateng sekeluarga menjadi penghuni. Yah bisa dibilang gue gede dengan ngeliat dia bertambah tua. Gue liat waktu anak-anaknya masi SMA lalu kuliah dan sekarang semua anak-anak uda menikah dan punya anak.
Yang gue tahu dia selalu keliatan bahagia. Pagi-pagi dia uda bangun dan duduk di teras depan rumahnya sama Tante Lis,istrinya. Ritual duduk-duduk di teras akan terulang lagi di sore hari dan itu terjadi setiap hari. Sampe gue mikir ni org idupnya enak bener, relax bgt...dan paling keliatan...dia kompak abis ama Tante Lis. Semuanya mereka lakukan berdua dari duduk-duduk ngobrol di teras ampe bersih-bersih halaman rumah mereka.
Beberapa hari sebelom Om Frans pergi, Tante Lis uda bolak-balik berkali-kali buat check up ke dokter krn sakit. Yg gue denger kalo ga salah ada masalah di lambungnya. Tapi siapa yg sangka justru yg ga sakit dan adem-adem aja justru yg duluan pergi.
Emang ga selamanya org bakal hidup terus. Akan ada waktunya masing-masing yg bakal ditempuh oleh setiap orang. Waktu yg misterius dan waktu yg cm diketahui oleh Tuhan. Emang betul jam terbang kita uda ada yg nentuin. Dan kita ga bisa ngelak dari 'kontrak jam terbang' yang kita punya meskipun kita ga pernah menandatangani surat kontrak apapun dengan perihal jam terbang.
Demikian juga dengan keseharian kita...ga selamanya kegitan kita sehari-hari akan kita lakukan dalam bentuk dan situasi yang sama. Tante Lis masi bisa tetep duduk-duduk di teras setiap pagi dan sore hari. Ritual yang sama yang uda dia jalanin selama bertahun-tahun. Hanya saja kali ini dia harus duduk sendirian...
Well, kalo ngomong masalah ending...akhir dr sebuah proses. Pertanyaan yg selalu muncul di kepala gue adalah 'apakah gue bakal nyesel dg smua yg uda pernah gue jalanin dlm proses 'jam terbang' gue? kan harusnya waktu itu gue begini bukannya begitu.' atau hadir sebuah pernyataan 'wah gue puas bgt gue uda ngelarin kontrak...uda maksimal bgt dan uda ga ad yg kelewat lg buat disesali'
Monday, April 20, 2009
Imperfection
So many things in life that don't go our way. Because of that people used to saying 'I wish ....'
‘Ooo, I wish it didn't happened’
‘I wish I were taller’
‘I wish I could be his boyfriend’
‘I wish I were superstar’
‘I wish I were famous’
And there would be so many more 'I wish' would come up…..
When I was younger I used to think…
'Why I am not as smart as him?'
'Why I don't drive a better car?'
‘Why I don't have a bigger house that equipped with swimming pool, gym, and jacuzzi?'
well, it's been a long time. in fact i'm still alive until now. I survived through all those imperfections that haunted. And now I’m thankful with what I have. Ihave nothing less although all I have is not flawless. I have family and friends that love me although sometimes they pissed me off. I have a job that suits my want and need. I have opportunity to do things I like. So what else should I be worry about? Girlfriend or life partner? Ah it can wait so just chill and lay back.
Culture and lifestyle that we're facing nowadays somehow caused us to get insecure about what we are and about what around us. In a modern world people tend to be judged by their having and not by their being. I remember how I used to imagine to live somebody else's life. At the end, through times I've learnt that people that I used to envy , found out that they don't live happily as much as I thought. Yes they are loaded but they are sick and shattered. Yes they are good looking but they are insecure about what people might say about them. Yes they are incredibly smart but nobody wants to be friend with them because thay are not easy to be friend with others.
All those facts hit me in a sudden awakening. Why should I be disappointed with what I am? I'm not perfect, I don't have a knock out figure, I don't have private jet coz my family can't afford it, I'm not dressed with designer's label ,I don't have fancy car, and I don't live in a luxurious mansion. But guess what? I'm still living and amazingly I could enjoy live with all those imperfections around. I'm not incredibly smart but I could have a job and I am enjoying it. I'm not physically perfect but I'm happy at least I'm not having any deadly disease. I'm not rich but I still can afford to do things I like.
So ,does perfection matter? It depends... it depends on how you feel and see things through different point of view. First impression does matter… I agree on that point. But first impression can’t talk too much about yourself. Remember Susan Boyle?
‘Ooo, I wish it didn't happened’
‘I wish I were taller’
‘I wish I could be his boyfriend’
‘I wish I were superstar’
‘I wish I were famous’
And there would be so many more 'I wish' would come up…..
When I was younger I used to think…
'Why I am not as smart as him?'
'Why I don't drive a better car?'
‘Why I don't have a bigger house that equipped with swimming pool, gym, and jacuzzi?'
well, it's been a long time. in fact i'm still alive until now. I survived through all those imperfections that haunted. And now I’m thankful with what I have. Ihave nothing less although all I have is not flawless. I have family and friends that love me although sometimes they pissed me off. I have a job that suits my want and need. I have opportunity to do things I like. So what else should I be worry about? Girlfriend or life partner? Ah it can wait so just chill and lay back.
Culture and lifestyle that we're facing nowadays somehow caused us to get insecure about what we are and about what around us. In a modern world people tend to be judged by their having and not by their being. I remember how I used to imagine to live somebody else's life. At the end, through times I've learnt that people that I used to envy , found out that they don't live happily as much as I thought. Yes they are loaded but they are sick and shattered. Yes they are good looking but they are insecure about what people might say about them. Yes they are incredibly smart but nobody wants to be friend with them because thay are not easy to be friend with others.
All those facts hit me in a sudden awakening. Why should I be disappointed with what I am? I'm not perfect, I don't have a knock out figure, I don't have private jet coz my family can't afford it, I'm not dressed with designer's label ,I don't have fancy car, and I don't live in a luxurious mansion. But guess what? I'm still living and amazingly I could enjoy live with all those imperfections around. I'm not incredibly smart but I could have a job and I am enjoying it. I'm not physically perfect but I'm happy at least I'm not having any deadly disease. I'm not rich but I still can afford to do things I like.
So ,does perfection matter? It depends... it depends on how you feel and see things through different point of view. First impression does matter… I agree on that point. But first impression can’t talk too much about yourself. Remember Susan Boyle?
Sunday, April 19, 2009
Broken
If life is a book that filled with a lot of stories either good or bad, I guess there must be several pages that we would like to tear out. If it's happened to me I think there would be like hundreds of pages that got to be ripped off. I had made several bad decisions in the past. Some of it has taught me lessons that make me grow stronger but some of it just left me with regret.
Yes, I did make mistakes. At some point in my life, I tried so hard to be a better person. Move on and patch things up.
Another pages that I would love to tear out is the bad experiences chapter. Some moment in life that caused pain and traumatic memories.
But suddenly I realized it was such a coward moves trying to forget all those bad stuffs by escaping from reality.
Although still I don't understand why did all those stuffs could happened to me but believe it or not those bad experinces have made me who I am today. If now I'm a tough guy, it's beause all the lessons that I've been gone through. If now I'm a bastard that's because my decision,wrong decision anyway,to deal with those pains in a wrong way.
As a human it's so normal to keep on trying to be in a better position or in a better place. But somehow things don't always go our way. We messed up.. we screwed up and at the end we're trying to patch things up.
The best attitude to deal with all these things is just face our fear bravely. Realized how fragile we are. By realizing how fragile and vulnerable we are , we could remind ourselves that we have nothing to be proud of. Why we got to be proud on our fragility?
We all are broken in certain ways....and only us that know how to treat our wound and pain within
Yes, I did make mistakes. At some point in my life, I tried so hard to be a better person. Move on and patch things up.
Another pages that I would love to tear out is the bad experiences chapter. Some moment in life that caused pain and traumatic memories.
But suddenly I realized it was such a coward moves trying to forget all those bad stuffs by escaping from reality.
Although still I don't understand why did all those stuffs could happened to me but believe it or not those bad experinces have made me who I am today. If now I'm a tough guy, it's beause all the lessons that I've been gone through. If now I'm a bastard that's because my decision,wrong decision anyway,to deal with those pains in a wrong way.
As a human it's so normal to keep on trying to be in a better position or in a better place. But somehow things don't always go our way. We messed up.. we screwed up and at the end we're trying to patch things up.
The best attitude to deal with all these things is just face our fear bravely. Realized how fragile we are. By realizing how fragile and vulnerable we are , we could remind ourselves that we have nothing to be proud of. Why we got to be proud on our fragility?
We all are broken in certain ways....and only us that know how to treat our wound and pain within
Subscribe to:
Posts (Atom)

